Film Favorit Saya



Media audio visual sebenarnya bukan favorit saya. Mendengarkan musik, menonton film, video, youtube, dan lain sebagainya, bukan hal pertama yang akan saya pilih saat sedang sendirian. Tapi bukan berarti saya nggak suka. Hanya saja, itu adalah hal yang saya cadangkan sebagai "aktivitas sosial". Dengan kata lain, buat dinikmati bersama seseorang, entah teman, suami, atau keluarga. 

Kalau lagi sendirian, saya milih melakukan sesuatu yang lain, yang tidak bisa saya lakukan untuk "bonding" dengan orang lain; misalnya baca buku, nulis, ngelamun, bengongin cabe, dan sebagainya. Itulah yang lebih sering saya lakukan.

Jadi, kalau harus memikirkan film favorit, pilihan saya nggak banyak. Karena ga banyak film yang saya tonton. Belakangan ini jadi agak banyak sih, karena Pak Suami sering WFH, dan kami punya lebih banyak waktu di rumah.

Nah, dari beberapa film yang kami tonton baru-baru ini, ada satu film yang sukses bikin saya nangis-nangis sampai sembab, yaitu Dua Garis Biru dari Gina S. Noer. Gile lah ini film, saya suka banget. Ada beberapa hal yang bikin saya mikir di situ, dan gimana dua keluarga di film ini menghadapi "musibah" yang mereka hadapi merupakan kontras yang paling menarik buat saya.

Saya nggak mau bahas tentang kenapa dua remaja ini bisa terjatuh melakukan kesalahan sebesar itu, karena memang bukan itu yang saya dapat dari sana. Yang saya dapat adalah bagaimana dua kelompok manusia dari status sosial yang berbeda bereaksi terhadap sebuah peristiwa yang mempertaruhkan harga diri, martabat, juga masa depan keluarga dan anak-anaknya.

Kenyataannya, kejadian yang meruntuhkan martabat itu bisa berupa apa saja, dan manusia bisa terpeleset ke dalam kesalahan dari posisi mana saja. Kenyataannya lagi, dunia tidak seramah itu dalam memaafkan kesalahan-kesalahan manusianya. Belum lagi kalau kamu miskin, ga pinter-pinter amat, ga punya resource untuk menyelamatkan muka di depan dunia. Bisa nggak kamu menghadapi semua itu masih dengan kepala tegak, masih mempertahankan integritas dan kebaikan hati, walau dalam posisi marah, terdesak, terhina, dan menanggung malu?

Terus, kalau dihadapkan pada kecenderungan zaman sekarang soal mengutamakan kebahagiaan anak, menjamin masa depannya, menghargai pilihan hidupnya, di sebelah mana kita menempatkan pelajaran tentang tanggung jawab buat mereka? 

Di satu sisi, perbuatan dua remaja naif ini menyebabkan terbentuknya sebuah kehidupan baru dalam rahim yang bakal lahir ke dunia dan menjadi tanggung jawab yang luar biasa besar. Ini nyawa, ini makhluk yang hidup dan perlu dihargai kehidupannya. Dan jelas, merekalah yang bertanggung jawab atas lahir batinnya janin tak berdaya ini. Di sisi lain, mereka sendiri sebenarnya masih anak-anak. Masih ada dalam tanggung jawab ibu bapaknya.

Membiarkan mereka bertanggung jawab membesarkan anak mereka, artinya mempertaruhkan masa depan dan cita-cita mereka. Sebagai perempuan yang pernah membesarkan anak, ibu si cewek tahu banget beratnya, tahu banget bebannya kayak gimana buat perempuan, dan mungkin tahu banget apa aja yang harus dia 'korbankan' ketika memutuskan bertanggung jawab atas seorang anak. Karir, cita-cita, bahkan dirinya sendiri, harus ditaruh di kursi belakang, entah di nomer kesekian.

Tapi, hei, kalau masa depan si remaja cewek yang diprioritaskan, sehingga dia dibebaskan dari tanggung jawab untuk membesarkan anak hasil perbuatannya sendiri, dan dibiarkan mengejar cita-citanya tanpa harus mengurus anaknya, di mana kita menempatkan pelajaran tentang tanggung jawab buat dia?

Satu hal yang membuatnya beruntung adalah karena dia pintar, anak keluarga berkecukupan, punya kesempatan yang lebih luas dibandingkan jika keadaannya sebaliknya. Bayangkan kalau yang perempuannya yang berasal dari keluarga miskin, nggak pinter-pinter amat, kayak gimana dunia memandang dia? Mikirin ini bikin hati saya nyut-nyutan sendiri. Dan masih banyak lagi hal lain yang bikin nyut-nyutan dalam film ini.

Pada akhirnya, tentu, pelajaran paling penting adalah menghindari terjadinya hal seperti ini. Tetapi, sekali lagi, bukankah kita semua manusia biasa, dan bisa terpeleset ke dalam kesalahan kapan saja? Bukan hanya kesalahan yang spesifik seperti ini, tetapi mungkin yang lain, yang berbeda jenisnya, tapi sama besar taruhannya.

Film-film seperti ini bikin hati saya banjir dan kepala saya penuh. Buat saya, filmnya bukan hanya bisa dinikmati, tetapi juga melunakkan hati, membuat saya mencoba untuk berdiri dalam sepatu orang lain. Terima kasih, Mbak Gina S. Noer, terima kasih udah bikin film keren seperti ini. T.T

10 comments

  1. Belum pernah nonton film ini. Belum tertarik karena kenapa ya sekarang-sekarang aku benar-benar hanya memilih film yang minim konflik. Drakor pun kalau konfliknya berat dan bakal menguras air mata, maka aku tinggalin. Jadi sekarang tontonannya adalah mengulang nonton serial "how i met your mother your mother" yang yakin aja isinya ketawa-ketawa 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sih ga sampe cirambay, tapi emang keren banget mbanggi ini filmnya... Serius deh!

      Delete
    2. Ih, sebenarnya itu juga yang aku rasakan setiap kali diajak nonton/direkomendasiin film. Pertanyaan pertamanya selalu: lucu nggak? Kalau nggak lucu nggak deh.

      Entah kenapa rasanya energi makin terbatas untuk film-film yang menguras emosi. *etapi dari dulu juga aku jarang nonton sik wkwk

      Film ini aku tonton tadinya tanpa ekspektasi bakal semengharubiru ini, Tan. Tapi untungnya dia mengharubiru in a good way. Bukan yang bikin resah dan mindbending.

      Delete
  2. Gina S. Noer favoritku. Berharap banget bisa belajar langsung sama beliau... atau kerja bareng juga nggak apa-apa. hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaamiiiiin. Hahahhaa. Pingin banget belajar storytelling kece kayak begini ya.

      Delete
  3. "Kenyataannya, kejadian yang meruntuhkan martabat itu bisa berupa apa saja, dan manusia bisa terpeleset ke dalam kesalahan dari posisi mana saja. Kenyataannya lagi, dunia tidak seramah itu dalam memaafkan kesalahan-kesalahan manusianya. Belum lagi kalau kamu miskin, ga pinter-pinter amat, ga punya resource untuk menyelamatkan muka di depan dunia. Bisa nggak kamu menghadapi semua itu masih dengan kepala tegak, masih mempertahankan integritas dan kebaikan hati, walau dalam posisi marah, terdesak, terhina, dan menanggung malu?"

    Edan! Keren banget kamu mbak ngolah katanya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo, makasih banget udah mampir. Filmnya ngasih sudut pandang yang edan juga sih, Mbak. Penulisnya kepikiran aja gitu lho untuk ngolah konflik dalam sudut pandang seperti ini. Padahal kalau dipikir-pikir premisnya kan cukup 'lazim', ya?

      Delete
  4. kok, cuma satu film, sih
    (pembaca kebanyakan maunya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya sekarang kebanyakan nontonnya drakor, Om. wkwkwk

      Delete