Hal-Hal yang Membuat Saya Bahagia

Berhubung Tan Gi nulisnya rajin amat, aku jadi pingin rajin juga. Dan pada akhirnya memutuskan merapel postingan biar bisa nyusul teman-teman lain.

Hari ini temanya tentang "Things that make you happy", ceunah. Dulu, tahun 2017, saya pernah nulis tentang hal yang sama. Di blog lama. Dalam rangka writing challenge juga. Pada waktu itu, susaaaah banget mikirin apa yang bikin saya hepi. Tapi hari ini, ketika melihat tema, saya langsung kepikir pingin hiking, dinaungi langit biru, melewati padang rumput yang ditingkahi bunga-bunga musim panas, ditemenin para sapi yang leyeh-leyeh bahagia.

Itu terlintas sejenak aja sih, karena melihat cuaca di luar cerah.

Kalau mikir yang lebih serius, hmm. Yang bikin saya hepi adalah... nonton video kucing, lihatin cabai-cabai tumbuh subur, sereh menghijau rimbun, target kerjaan terpenuhi, nemu mangga manis di supermarket (yang mana jarang banget di sini), dikabarin ponakan bahwa dia habis ngelarin proyek ini-itu (proyek-proyek rintisan, tapi saya senang dengarnya), nonton drakor berdua pak suami dan ngakak-ngakak, ngulang-ngulang adegan pas Jung Pal dan kawan-kawan nari sobangcha, dan... e bentar, kok receh semua?

Sebenarnya tadi saya mau nulis bahwa saya happy kalau dikasih duit seratus juta juta milyar trilyun, kalau ibu bapak saya hidup sejahtera tidak kekurangan suatu apa, tinggal di rumah yang bagus dan nyaman, hidup rukun, tentram, dan saling mengasihi seperti kata PPKn, jika saya bisa mencapai cita-cita saya yang anu dan ina dan inu... tetapi kok ya isinya "sawangan" semua.

Makanya saya nyoba nyari apa yang selama ini sudah membuat saya bahagia.

Ah, nemu lagi. Teman-teman yang baiiiiik banget. Teman-teman yang baik dan nyambung, yang bikin saya merasa diterima apa adanya.

Oh, ada lagi. Saya juga bahagia ketika berhasil mengungkapkan apa yang saya rasakan. Saya bahagia ketika bisa menghadapi situasi yang membuat saya kehilangan kata-kata, eh terus kata-katanya ketemu lagi (gimana sih). Ya pokoknya gitu. 

Contohnya, ketika saya mendapatkan masalah di pekerjaan, saya tahu saya marah dengan situasi itu, tetapi untuk mengetahui kenapa dan masalahnya di mana, saya perlu berpikir. Ketika berhasil memahami dengan tepat... "oh ini toh sebenarnya yang bikin saya ga terima", kemudian bisa menyampaikan jika perlu disampaikan, atau melepaskan jika perlu dilepaskan, itu buat saya anugerah banget. Ini membuat saya bisa lebih percaya diri menghadapi peristiwa-peristiwa dan interaksi-interaksi lain dalam kehidupan.

Kadang, ga perlu masalah real, misal saya melihat, membaca, atau menonton sesuatu dan merasa terusik oleh apa yang saya saksikan, ketika saya berhasil memahami... "oh, bagi saya ini ga acceptable karena gini dan gini, terlepas dari orang lain memandangnya bagaimana," itu buat saya melegakan. Dan kelegaan itu membuat saya bahagia. Eh, gitu ga ya? (Lah, gimana sih)

 Ya, pada intinya, itu membuat saya merasakan ketentraman. Dan buat saya, ketentraman itulah yang membahagiakan.

Saya juga bahagia ketika bisa nangis-nangis dan curhat sama Tuhan. Iya, nangis, dan mungkin juga ngeluh, mungkin juga sedih, mungkin juga kecewa. Seringnya memang pada saat begitulah saya nangis, pada saat-saat gagal, lebih tepatnya. Tapi entah mengapa pada saat itu terlintas sebuah rasa syukur di hati saya, karena saya bisa menumpahkan perasaan-perasaan itu dengan penuh kelegaan. Makasih, Tuhan, meski dengan segala kekurangan dan kegagalan ini, saya masih punya tempat buat mengadu.

Hm... apa lagi ya, yang membuat saya bahagia?

Rumah yang bersih, yang biasanya hanya tercapai beberapa kali dalam setahun, setelah saya beres-beres pas mau ada tamu, wakakakak. Hepi banget liat rumah bersih segar wangi. Tapi bisa ga sih jangan saya yang beresin. #heh.

Oh iya, ada juga satu hal yang dari dulu tidak berubah. Saya kerap berpikir, bahagia sekali kalau saya sudah berhasil menuntaskan seluruh tanggung jawab dan merasa ga ada beban di akhir hari. Saya sering bertanya-tanya, ada gak sih, orang-orang yang pas mau tidur, merasa semua utang-utang tugas dan kewajibannya udah lunas sehingga besok bangun dengan enteng dan bebas lepas kutinggalkan saja semua beban di hatiku? *maap jadi nyanyi

Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya selagi masih hidup, ya ada aja tanggung jawab yang kudu dipenuhi, satu belum kelar, lainnya sudah menyusul. Kecuali dulu mungkin, waktu masih SD, waktu tugas dan tanggung jawabnya cuma ngerjain PR.

Meski begitu, toh saya bersyukur juga dua-tiga tahun belakangan ini hampir selalu tidur dengan nyenyak. Lagi-lagi sebuah nikmat yang saya syukuri, yang membahagiakan.

Udah dulu lah, itu aja tentang hal-hal yang bikin saya hepi. Bagaimana dengan kamu, apa sih yang membuat kamu hepi? Atau, kalau happy terasa "terlalu positif", barangkali bisa diganti, apa sih yang membuatmu content, merasa cukup dan tentram?


11 comments

  1. Karena saya baru nyadar, di versi mobile ga bisa komen klo belum ada komen duluan. Jadi, di sini pun, saya komen lagi.

    ReplyDelete
  2. Eh gara2 baca ini, aku jadi ngubek2 writting challenge lama dan ternyata benar, ada tema yg sama, pas day 1 lagi. wkwkw mana jawabanku waktu itu ngelist lagi *gak ada usaha nulis! *

    btw, uhuk. ehm... nama blognya, uhuk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heruuuu. Mana tulisanmu lainnya. Ditunggu, heh!

      Delete
  3. iya ya, pengin ngerasain ruangan segar dan bersih tapi bukan kita yang beresin...
    masa nginep di hotel? hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi ga mau bayar hotel juga, mihil. Gimana, dong? :( *banyak mau wkwk

      Delete
  4. Iya, pengen ngerasain tidur tanpa ada beban tanggung jawab kerjaan atau list yang harus dikerjakan besok. Kapan ya terakhir ngerasa kayak gitu? Pas SD aja kayaknya masih mikirin soal ulangan dan PR. Pas balita mungkin ya. 🤔

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk aku gapapa kok klo mikirin ulangan dan PR SD, asal jangan mikirin deadline XD

      Delete
  5. aku cuma bisa membaca sambil ngangguk2 ..

    ReplyDelete
  6. Baca ini terus aku penasaran, aku pernah ikut writing challenge kayak gini gak ya. *brb ngubek
    Aku bahagia baca postingan ini. Pengin ikutan tapi masih belum bisa, mungkin aku nyusul, mungkin malah aku baca-baca tulisan kalian aja. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah. Mala pernah ikut kayaknya. Yang tahun berapa gituu... saking lamanya aku sampai lupa. Aku juga bahagia baca tulisan-tulisannya Mala. :)

      Delete